Wednesday, October 10, 2012

INTERMESO INDONESIA


  Jan 27, '08 6:36 AM

“Waktu itu kami main langsung di depan Pak Harto ketika ada acara mengenai pemuda di Jakarta,” ujar James Lapian, personel Orkes Moral Pancaran Sinar Petromaks, yang sudah lama berkediaman di London. “Kami menyanyikan lagu yang menyindir Abdul Gafur, Menteri Pemuda saat itu.”
Hal ini terungkap dalam acara diskusi musik Indonesia yang diselenggarakan oleh Persatuan Pelajar Indonesia-Masyarakat Indonesia Birmingham di Students’ Guild Birmingham University pada Sabtu, 26 Januari 2008.
dari kiri ke kanan: James Lapian, Benny Soebardja, RIza Sihbudi




James menceritakan dengan penuh semangat, bagaimana musik pada tahun 70-an digunakan oleh mahasiswa untuk menggalang solidaritas melawan penguasa yang terlihat semakin korup.  
James mengamini pendapat pembicara sebelumnya, Benny Soebardja, mantan vokalis dan gitaris kelompok progresif rock Giant Step dan Shark Move tahun 70-an, yang menyebutkan saat itu musik terbagi ke tiga aliran, dangdut, yang disukai oleh kalangan bawah, pop yang cenderung cengeng yang digemari oleh semua kalangan, dan rock di kalangan anak muda.
James menceritakan bagaimana OM PSP dengan sadar memilih musik dangdut untuk mendekatkan persoalan masyarakat biasa ke kalangan mahasiswa. “Mahasiswa saat itu terlalu elitis. Musik yang disukai, termasuk protes, seringkali berbahasa Inggris. Karena itu mahasiswa menjadi berjarak dengan kondisi masyarakat sekitarnya, dan gerakan protes tidak bisa meluas.” 
Benny dan James berduet gitar, dan ternyata sudah banyak yang lupa


Hal ini diakui juga oleh Benny Soebardja, yang menceritakan kalau lagu-lagu protesnya lebih banyak berbahasa Inggris,”Soalnya intel nggak bakalan ngerti bahasa Inggris’” ujarnya sambil tergelak. Tetapi hal ini harus dibayar dengan tetap elitnya gerakan mahasiswa saat itu.
Meski berbahasa Inggris, tetap saja pada suatu saat Benny ditangkap tentara, karena seringnya menyanyi dibanyak demonstrasi dan acara mahasiswa sekitar tahun 1978. “Mereka berpikir saya pimpinan demo itu, hanya karena saya sering bernyanyi di depan massa.”. 
Benny dan James kemudian bermain gitar sambil mencontohkan bagaimana lagu-lagu protes mahasiswa saat itu, baik yang berbahasa Inggris dari Bob Dylan dan Joan Baez, serta lagu mereka sendiri.
Peserta yang didaulat menjadi pembicara, Maman H Somantri, mantan Deputi Gubernur BI, mantan Kepala Perwakilan BI London dan mantan wartawan Aktuil


Diskusi semakin hangat karena peserta membandingkan dengan lagu-lagu gerakan mahasiswa 80-90-an yang berhasil menyatukan mahasiswa dengan rakyat, seperti Darah Juang yang juga populer di kalangan non mahasiswa. 
Banyak masyarakat Indonesia yang hadir, termasuk dua orang Inggris yang fasih berbahasa Indonesia. Lainnya adalah moderator Riza Sihbudi yang juga Atase Pendidikan KBRI Inggris, mantan wartawan musik Aktuil Maman HS yang juga mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia, serta Wakil Dubes Indonesia di Inggris (KUAI) Dewa Made Sastrawan.
Pada akhir acara, beberapa peserta ingin agar kegiatan semacam ini bisa terus dilembagakan, apakah melalui diskusi semacam ini konser musik bagi masyarakat Indonesia, maupun membuka cabang Komunitas Pencinta Musik Indonesia di Inggris.
Setelah sekian lama terbaring di rumahsakit, Paman Gober meninggal dunia juga. Kematiannya dinantikan oleh banyak pihak, yang menginginkan dari dulu, maupun yang menginginkan ia hidup lebih lama untuk berkumpul bersama keluarga (ini keluarganya) atau mempertanggungjawabkan perbuatannya selama menjabat (ini yang pernah dizalimi).

Saya baru saja mendapat sms kabar ini dan reaksi otomatis langsung membuka detikcom via hp. Memang benar, Paman Gober telah tiada. Semoga jalannya dimudahkan di alam sana dan keluarganya yang ditinggalkan melunasi semua kewajiban beliau. Banyak warisan yang harus dituntaskan, selain Gudang Uang Paman Gober yang sudah terkenal.
Semoga Pak Harto bisa khusnul khotimah.

saya pertama membaca cerpen ini di buku kumpulan cerpen Seno, beli sekitar tahun 98/99 di Yogya, yan kemudian juga dibukukan ulang dalam kompilasi cerpen tentang Suharto/Orba oleh Agus Noor (kalau nggak salah).

ceritanya sangat keren, apalagi dibuat tahun 94 ketika Pak Harto sedang jaya-jayanya. tidak terasa, sekarang cerpen ini hampir menjadi kenyataan.

btw, anaknya Seno, Timur Angin, adalah salah satu korban keganasan aparat ketika nonton demo di Yogya. ketika Nawal lahir, saya ingin menamai seperti Seno menamai anaknya. sederhana, berciri Indonesia. tapi ternyata memang butuh sastrawan untuk mencari nama seperti itu, akhirnya, Nawal Zamar Ikram.


Kematian Paman Gober
Oleh: Seno Gumira Ajidarma

Kematian paman gober ditunggu-tunggu semua bebek. Tidak ada lagi yang bisa
dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek
membuka koran, yang mereka ingin ketahui hanya satu hal : apakah hari ini Paman
Gober sudah mati. Paman Gober memang terlalu kuat, terlalu licin, dan bertambah
kaya setiap hari. Gudang-gudang uangnya berderet dan semuanya penuh. Setiap hari
Paman Gober mandi uang disana, segera setelah menghitung jumlah terakhir
kekayaannya, yang tak pernah berhenti bertambah.

Begitu kayanya Paman Gober, sehingga ia tak bisa hafal lagi pabrik apa saja yang
dimilikinya. Bila terlihat pabrik di depan matanya, ia hampir selalu berkata,
"oh, aku lupa, ternyata aku punya pabrik sepatu." Kejadian semacam ini terulang
di muka pabrik sandal, pabrik rokok, pabrik kapal,pabrik arloji, maupun pabrik
tahu-tempe. Boleh dibilang, hampir tidak ada pabrik yang tidak dimiliki Paman
Gober. Ibarat kata, uang dicetak hanya untuk mengalir ke gudang uang Paman
Gober.

Meskipun kaya raya, anggota klub milyarder no.1, Paman Gober adalah bebek yang
sangat pelit. Bahkan kepada keluarganya, Donal bebek, ia tidak pernah mewmberi
bantuan, meski Donal telah bekerja sangat keras malah Donal ini, beserta
keponakan-keponakannya Kwak, Kwik, dan Kwek, hamper selalu diperas tenaganya,
dicuri gagasannya, dan hasilnya tidak pernah dibagi. Cendekiawan jenius Kota
Bebek, Lang Ling Lung, yang dimuka rumahnya tertera papan nama Penemu, Bisa
Ditunggu, pun hamper selalu diakalinya.

Sudah berkali-kali Gerombolan Siberat, tiga serangkai kelas kakap, menggarap
gudang uang Paman Gober, namun keberuntungan selalu berada dipihak Paman Gober.
Pman Gober tak terkalahkan, bahkan oleh Mimi Hitam, tukang tenung yang suka
terbang naik sapu. Sudah beberapa kali Mimi Hitam berhasil merebut Keping
Keberuntungan, jimat Pman Gober, namun keping uang logam kumuh itu selalu
berhasil direbut kembali. Tidak bisa dipungkiri, Paman Gober memang pekerja
keras. Masa mudanya habis dilorong-lorong gua emas. Sebuah gunung emas yang
ditemukannya menjadi modal penting yang telah melambungkannya sebagai taipan tak
tersaingi dari Kota Bebek.

Suatu hal yang menjadi keprihatinan Nenek Bebek, sesepuh Kota Bebek yang
mengasingkan ke sebuah pertanian jauh di luar kota, addalah kenyataan bahwa
Paman Gober dicintai kanak-kanak sedunia. Pman Gober menjadi legenda yang
disukai. Pman Gober begitu rakus. Pman Gober begitu pelit. Tapi ia tidak
dibenci. Setiap kali ada orang mengecam,menyaingi, pokoknya mengancam reputasi
Paman Gober sebagai orang kaya, justru orang itu tidak mendapat simpati. Paman
Gober bisa menangis tersedu-sedu meski hanya kehilangan uang satu sen. Ia sama
sekalli bukan tokoh teladan, tapi mengapa ia bisa begitu dicintai?
"Dunia sudah jungkir balik," ujar Nenek Bebek kepada Gus Angsa, yang meski suka
makan banyak, sangat malas bekerja. Namun Gus Angsa sudah tertidur sembari
bermimpi makan roti apel.

"Suatu hari dia pasti mati," ujar Kwik.

"Memang pasti, tapi kapan?" Kwak menyahut.

"Kwek!" Hanya itulah yang bisa dikatakan Kwek. Dasar bebek.

Begitulah, setiap hari, Lubas, anjing dirumah Donal, membawa Koran itu dari
depan pintu ke ruang tengah.

"Belum mati juga!"

Donal segera membuang lagi Koran itu dengan kesal. Karena memang tiada lagi
berita yang bisa dibaca di Koran. Banyak kabar, tapi bukan berita. Bnyak
kalimat, tapi bukan informasi. Banyak huruf, tapi bukan pengetahuan.
Koran-korantelah menjadi kertas, bukan media.

Semua bebek memang menunggu kematian Pman Gober. Itulah kabar terbaik yang
mereka harapkan terbaca. Paman Gober sendiri sebenarnya sudah siap untuk mati.
Maklumlah, sebagai generasi tua di Kota Bebek, umurnya cukup uzur. Untuk
kuburanya sendiri, ia telah membeli sebuah bukit, damn membangun mausoleum di
tempat itu. Jadi, bukanya Paman Gober tidak mau mati. Ia sudah siap untuk mati.

"Mestinya, bebek seumur saya ini, biasanya ya sudah tahu diri, siap masuk ke
liang kubur. Makanya, ketika saya diminta menjadi Ketua Perkumpulan Unggas Kaya,
saya merasakan kegetiran dalam hati saya, sampai beberapa lama saya bisa
bertahan? Apa tidak ada bebek lain yang mampu menjadi ketua?"

Kalimat semacam itu masuk ke dalam buku otobiografinya, Pergulatan Batin Gober
Bebek, yang menjadi bacaan wajib bebek-bebek yang ingin sukses. Hampir setiap
bab dalam buku itu mangisahkan bagaimana Paman Gober memeburu kekayaan. Mulai
dari harta karun bajak laut, pulau emas, sampai sayuran yang membuat bebek-bebek
giat bekerja, meski tidak diberi upah tambahan. Bab terakhir diberi judul Sampai
Kapan Saya Berkuasa?. Memang, Paman Gober adalah ketua terlama Perkumpulan
Unggas Kaya. Entah kenapa, ia selalu terpilih kembali, meski pemilihan selalu
berlangsung seolah-olah demokratis. Begitu seringnya ia terpilih, sampai-sampai
seperti tidak ada calon yang lain lagi.

"Terlalu, masak tidak ada bebek lain?"

Paman Gober selalu berbasa-basi. Namun, entah kenapa, kini bebek-bebek menjadi
takut. Paman Gober, memang, terlalu berkuasa dan terl;alu kaya. Setiap hari yang
dilakukannya adalah mandi uang. Ketika Donal Bebek bertanya dengan kritis,
mengapa Paman Gober tidak pernah peduli kepada tetannga, bantuan keuangannya
kepada Donal segera dihentikan.

"Kamu bebek tidak tahu diri, sudah dibantu, masih meleter pula."

"Apakah saya tidak punya hak bicara?"

"Bisa, tapi janngan asal meleter, nanti kamu aku sembelih."

"Aduh, kejam sekali, menyembelih bebek hanya dilakukan manusia."

"Ah, siapa bilang bebek tidak kalah kejam dari manusia."

"Lho, manusia makan bebek, apakah bebek makan manusia?"

"Yang jelas manusia bisa makan manusia."

"Tapi Pman mau menyembelih sesame bebek, apakah sudah mau meniru sifat manusia?"

Paman Gober mempunyai banyak musuh, namun Paman Gober suka memelihara
musuh-musuh yang tidak pernah bisa mengalahkannya itu, justru untuk menunjukkan
kebesarannya. Paman Gober sering muncul di televise. Kalau Paman Gober sudah
bicara, kamera tidak berani putus, meskipun kalimat-kalimatnya membuat bebek
tertidur. Paman Gober selalu menganjurkan bebek bekerja keras, seperti dirinya,
dan Paman Gober juga semakin sering menceritakan ulang jasa-jasanya kepada warga
Kota Bebek.

"Coba, kalau aku tidak membangun jalan, air mancur, dan monument, apa jadinya
Kota Bebek?"

Tidak ada yang berani melawan. Tidak ada yang berani bicara.

"Paman Gober," kata Donal suatu hari, kenapa Paman tidak mengundurkan diri saja,
pergi ke pertanian seperti Nenek, menyepi, dan merenungkan arti hidup? Sudah
waktunya Pman tidak terlibat lagi dengan urusan duniawi."

"Lho, aku mau saja Donal. Aku mau hidup jauh dari Kota Bebek ini. Memancing,
main golf, makan sayur asem, dan membaca butir-butir falsafah hidup bangsa
bebek. Tapi, apa mungkin aku menolak untuk dicalonkan? Apa mungkin aku menolak
kehormatan yang segenap unggas? Terus terang, sebenarnya sih aku lebih suka
mengurus peternakan."

Maka hari-hari pun berlalu tanpa penggantian pimpinan. Demokrasi berjalan, tapi
tidak memikirkan pimpinan, karena memang hanya ada atu pemimpin. Segenap
pengurus bisa dipilih berganti-ganti, namun kedudukan Paman Gober tidak pernah
dipertanyakan. Para pelajar seperti Kwik, Kwek, dan Kwak menjadi bingung bila
membandingkannya dengan sejarah kepemimpinan kota lain. Kota Bebek seolah-olah
memiliki pemimpin abadi. Generasi muda yang lahir setelah Paman Gober berkuasa
bahkan sudah tidak mengerti lagi, apakah pemimpin itu memang bisa diganti.
Mereka pikir keabadian Paman Gober sudah semestinya.

Dan itulah celakanya kanak-kanak mencintai Paman Gober. Riwayat hidup Paman
Gober dibikin komik dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Bebek terkaya yang
sangat pelit dan rakus ini menjadi teladan baru. Nenek Bebek tidak habis pikir,
mengapa pendidikan, yang mestinya semakin canggih, membolehkan budi pekerti
seperti itu. Generasi muda ingin meniru Paman Gober, menjadi bebek yang
sekaya-kayanya, kalau bisa paling kaya di dunia.

"Paling kaya di dunia?" Kwak bertanya.

" Iya, paling kaya di dunia," jawab Nenek Bebek.

"Apakah itu hakikat hidup bebek?"

"Bukan, itu hakikat hidup Paman Gober."

Sementara itu, nun di gudang uangnya yang sunyi, Paman Gober masih terus
menghitung uangnya dari sen ke sen, tidak ditemani siapa-siapa. Matanya telah
rabun. Bulunya sudah rontok. Sebetulnya ia sudah pikun, tapi ia bagai tak
tergantikan.

Semua bebek menunggu kematian Paman Gober. Tiada lagi yang bisa dilakukan selain
menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang
ingin meraka ketahui hanya satu : apakah hari nin Paman Gober sudah mati. Seriap
pagi mereka berharap akan membaca berita Kematian Paman Gober, dihalaman
pertama.

Jakarta, 16 Agustus 1994
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/message/76355
Blog EntriDec 22, '07 8:45 AM
Setalah blog, jurnalisme, kini sastra pun dirambah oleh orang-orang biasa. Orang-orang seperti kita, yang mempunyai pekerjaan non menulis dan hanya nyambi menyalurkan hobi menulisnya.

Saya baru membaca dua buku yang banyak dibincangan dan laris, "Laskar Pelangi" dan "Ayat-Ayat Cinta". Memang telat karena sudah lama dibincangkan orang. Dua buku ini ditulis oleh orang-orang biasa dan menjadi semacam autobiografi sepotong hidup mereka.

Ini sejalan dengan blog, yang menjadi gerakan orang-orang biasa untuk bersuara, juga citizen journalism, istilah mbak Lily Farid dari www.panyingkul.net adalah jurnalisme orang biasa. Juga Alm. Prof. Sartono Kartodirjo dan alm. Dr. Kuntowijoyo yang memelopori sejarah orang biasa, petani, kiai lokal, dsb.

Laskar Pelangi menceritakan masa kecil penuh kenangan Andrea Hirata, bersama orang-orang biasa. Ditulis dengan gaya orang biasa menulis.

Beda sekali dengan penulis sastra, seperti Goenawan Muhamad yang tiap paragraf selalu memukau, tulisan Andrea Hirata lebih terasa seperti penuturan panjang lebar sejarah hidupnya. Jalinan paragraf tersebut mengalir secara lancar, sekali lagi dengan gaya bahasa orang biasa. Cerita tentang perbedaan kompleks staf tambang dan rakyat biasa, ditulis dengan penuh kenangan kemarahan.

Ayat-Ayat Cinta juga ditulis dengan bahasa mengalir, bahkan cenderung berbunga-bunga, penuh perumpamaan yang tidak dipakai di Indonesia. Sering seperti sinetron, tidak nyata, penuh dengan nasihat. Bagi saya, orang seperti Fahri tokoh utama novel ini yang suka menasihati sana sini adalah sosok sangat membosankan. Apalagi beberapa sikap keagamaannya bertentangan dengan saya, seperti poligami, meski diitulis dengan plot yang memikat.

Tetapi kedua novel ini memang mempunyai plot yang menarik untuk diikuti. Menulis sesuatu yang sangat baru bagi kita, sejarah hidup orang biasa.
Kita muak dengan penggede bangsa yang hanya peduli membesarkan perutnya. Kita, orang biasa, justru pelaku yang menentukan arah bangsa ini.

Semoga gerakan orang-orang biasa ini bisa menjadi suara Indonesia baru (kata pestablogger), memberikan oase ditengah orang-orang gede yang tidak peduli dengan kita.


Tulisan ini merupakan refleksi saya selama bekerja 2 tahun di industri pertambangan. Dengan melongok ke inisatif di sektor yang serupa, industri perkebunan kelapa sawit, saya bisa merasakan bahwa industri pertambangan perlu banyak belajar ke sawit.
Industri pertambangan masih terlalu berkutat pada inisiatif permukaan belaka. ICMM (International Council on Mining and Metals) membuat Sustainable Development Framework, tetapi isinya dan pedoman pelaksanaannya kalah jauh dari Prinsip Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). RSPO kalau benar akan diterapkan secara murni dan konsekuen seperti Pancasila, akan mengubah wajah industri sawit menjadi bagian dari gerakan global pembangunan berkelanjutan. Apalagi sawit semakin menjadi primadona ekspor Indonesia. Karena sawit pula, banyak petani kecil yang bisa merasakan nikmatnya menjadi petani.
Saya tidak pernah bekerja di industri sawit, jadi ini murni pengamatan saya terhadap inisiatif RSPO (secara konsep dan kertas).
Ini niatnya mau dikirim ke koran juga.

Menghidari Greenwash dengan Roundtable on Sustainable Palm Oil
Greenwash adalah tudingan kepada kalangan bisnis yang lebih mementingkan efek positif pencitraan kepedulian lingkungan daripada kinerja pengelolaan lingkungan yang sebenarnya.
Isu ini muncul lagi pada saat pertemuan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), akhir November di Kuala Lumpur dan Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim yang baru selesai di Bali.
Para pelaku industri sawit Indonesia saat ini akan memulai program sertifikasi berdasarkan prinsip RSPO, sekarang saat yang tepat untuk membuktikan bahwa komitmen kepada lingkungan (planet) dan masyarakat (people) sejalan tujuan mencapai profit.

Pengelolaan sawit berkelanjutan
Industri sawit dunia tahun ini dituding ikut berkontribusi pada pemanasan global, selain tudingan sebelumnya seperti konflik dengan masyarakat sekitar dan perusakan hutan.
Memang sulit untuk mempertemukan beda kepentingan antara LSM, seperti Greenpeace yang bulan lalu memblokade kapal pengangkut sawit di Riau, dengan industri sawit. LSM sering menafikan segala macam inisiatif karena tidak membongkar kontradiksi dasar dan aspek eksploitatif dari sistem kapitalis. Sementara industri sering menganggap inisiatif CSR sebagai alat pengelolaan para pihak dan risiko saja.
Karena itu RSPO harus dilihat sebagai jalan tengah dan alat untuk meningkatkan akuntabilitas dan transparansi pelaku industri sawit, dari perusahaan sampai LSM.
Hal ini sesuai dengan tujuan RSPO bahwa pengelolaan sawit berkelanjutan adalah upaya yang dilakukan oleh seluruh pihak dalam rantai nilai sawit dengan menerapkan praktek terbaik dalam operasinya untuk memastikan keberlanjutan usahanya dengan mematuhi peraturan yang berlaku, menguntungkan secara ekonomis, memelihara lingkungan dan bermanfaat sosial bagi masyarakat.
WWF (World Wildlife Fund for Nature) adalah yang pertama kali mencetuskan ide RSPO dan kemudian ditanggapi oleh para pelaku industri sawit dan berhasil menelurkan delapan prinsip dan kriteria tentang pengelolaan sawit berkelanjutan, yaitu komitmen terhadap transparansi, kepatuhan hukum, kelayakan ekonomi dan keuangan jangka panjang, penerapan praktek terbaik dalam operasi, komitmen keanekaragaman hayati, memperhatikan karyawan dan masyarakat, pengembangan perkebunan baru yang bertanggung jawab, dan komitmen perbaikan berlanjutan dalam wilayah operasi utama.
Memakai kerangka dari Hart (1997) dalam artikelnya Beyond Greening di Harvard Business Review, terlihat prinsip di atas sudah mengokodasikan empat prinsip utama, yaitu sustainability vision, product stewardship, clean technology dan pollution prevention.
Yang menarik, draf Interpretasi Nasional RSPO untuk Indonesia berhasil menghindari kesalahkaprahan bahwa corporate social responsibility adalah semata-mata community development (kriteria 6.1.1) --seperti dalam ketidakpahaman pemerintah dan DPR dalama Pasal 74 UU Peseroan Terbatas-- dan menggunakan paradigma pembangunan berkelanjutan dalam prinsipnya.
Voluntary Codes tidak bergigi?
Tudingan lain menyebutkan bahwa RSPO sebagai prinsip sukarela tidak akan berjalan, karena hukum saja sering dilanggar. Memang kecederungan dunia bisnis saat ini lebih menyukai voluntary guidelines, di tengah ketiadaan peraturan pemerintah yang komprehensif, terutama dalam corporate governance maupun CSR.
Harus diingat insiatif sukarela seringkali lebih efektif dibandingkan dengan regulasi pemerintah dalam beberapa hal, pertama, lebih komprehensif dan multipihak dibandingkan perumusan kebijakan publik di DPR atau pemerintah yang tertutup dan rawan kepentingan politik. RSPO misalnya diinisiasi oleh LSM dan diperdebatkan secara internasional oleh banyak pihak.
Kedua, karena prosesnya yang multipihak, maka mengikat banyak pihak dalam rantai suplai yang menandatangani inisatif tersebut, seperti perusahaan pemroses, pemasok, penyalur, lembaga sertifikasi sampai LSM.
Ketiga, alat untuk mengkomunikasikan komitmen pembangunan berkelanjutannya, internal maupun eksternal. Sehingga kecil kemungkinan ada yang menawarkan, misalnya, pestisida yang tidak ramah lingkungan karena penandatangan RSPO terikat untuk menerapkan prinsip etis dalam rantai suplai mereka.
Keempat, meningkatkan keunggulan kompetitif perusahaan dalam mempertahankan social license mereka. Dewasa ini semakin disadari bahwa perusahaan tidak hanya berkompetisi dalam lingkungan pasar (Porter, 1980), tetapi juga non pasar (Hillman, 1996). Sertifikasi produk hijau sama pentingnya dengan produk yang berkualitas.
Model sertifikasi yang diadopsi RSPO diharapkan akan memberikan kredibilitas atas sistem manajemen perusahaan, memberikan keyakinan terhadap pihak luar, seperti bank dan regulator, alat manajemen risiko dan memperkuat hubungan dengan kelompok kepentingan.
Menghindari greenwash
Draft Intepretasi Nasional RSPO untuk Indonesia misalnya membuka pintu keterbukaan industri sawit. Prinsip 1.2 Transparansi misalnya mengatur jenis informasi legal (dokumen perizinan dan sertifikat tanah) maupun lingkungan perusahaan (seperti Amdal), yang sebelumnya sulit untuk di akses. DPR dan Kementerian BUMN perlu belajar dari RSPO untuk pembahasan RUU Kebebasan Memperoleh Informasi Publik.
Dalam pelaksanaannya, perlu dipikirkan masa transisi dan aturan “comply or explain”. Artinya penandatangan RSPO diwajibkan untuk menerapkan semua prinsip, tetapi jika masih dalam waktu transisi, perusahaan tersebut harus memberikan penjelasan yang memadai mengapa tidak memenuhi prinsip tertentu.
RSPO juga perlu mengatur tentang format pelaporannya. Seperti halnya penandatangan UN Global Compact yang diminta menggunakan format pelaporan berkelanjutan dari Global Reporting Initiative, RSPO juga dapat mengambil pola yang sama agar implementasi dan kemajuan dapat diperbandingkan antar perusahaan maupun antar industri.

   The List

   1. Aburizal Bakrie & family
   2. Sukanto Tanoto
   3. R. Budi Hartono
   4. Michael Hartono
   5. Eka Tjipta Widjaja & family
   6. Putera Sampoerna & family
   7. Martua Sitorus
   8. Rachman Halim & family
   9. Peter Sondakh
  10. Eddy William Katuari & family
  11. Anthoni Salim & family
  12. Mochtar Riady & family
  13. Murdaya Poo
  14. Arifin Panigoro & family
  15. Hary Tanoesoedibjo
  16. Trihatma Haliman
  17. Sjamsul Nursalim & family
  20. Prajogo Pangestu
  22. Sutanto Djuhar & family
  24. Aksa Mahmud 
  30. Jusuf Kalla
  32. Ciputra
  33. Bambang Trihatmodjo

Berikut sedikit analisa cepat saya, niatnya mau dikirimkan ke koran.

Benturan Kepentingan Pengusaha-Politisi -Pejabat

Keluarga Menko Kesra Aburizal Bakrie dinobatkan oleh Forbes Asia sebagai orang terkaya di Indonesia tahun 2007 (Koran Tempo, 14/12/07). Bersama dengan Jusuf Kalla, Sutrisno Bachir dan banyak pengusaha lainnya, mereka mewakili fenomena pengusaha yang menjadi politisi dan pejabat publik.
Meski mereka selalu menolak dikaitkan hubungan ekonomi antara jabatan dengan bisnisnya, studi di Amerika dan Indonesia menyimpulkan bahwa koneksi politik akan bermanfaat dan menguntungkan perusahaan.

Strategi politik perusahaan

Saat ini perusahaan tidak hanya berkompetisi dalam lingkungan pasar, tetapi juga nonpasar. Lingkungan pasar, seperti yang didefinisikan oleh Porter (1980), yaitu kekuatan konsumen, pemasok, produk pengganti dan pemain baru, serta rivalitas intra industri, menentukan tingkat keatraktifan industri dan bagaimana perusahaan menentukan strateginya.
Sedangkan lingkungan nonpasar, seperti faktor sosial, politik dan hukum dengan aktor seperti pemerintah dan lembaga negara lainnya, masyarakat, LSM dan media, juga membuka peluang dan ancaman bagi perusahaan.
Proses pengambilan kebijakan publik melibatkan dinamika antara pengambil keputusan dan berbagai kelompok kepentingan di atas. Oleh karena itu perusahaan perlu mempunyai strategi politik yang tepat untuk memenangkan kompetisi ini (Boddewyn, 1993).
Banyak pihak menyakini bahwa perusahaan dengan koneksi politik yang baik akan memperoleh manfaat langsung maupun tidak langsung. Diantaranya adalah keuntungan informasi, akses ke pengambilan keputusan, memperluas pengaruh, citra dan prestise, mengurangi ketidakpastian dan biaya transaksi. Hanya saja sulit untuk mengukur keuntungan secara tepat dari koneksi politik ini.
Strategi politik perusahaan ini pada dasarnya terbagi ke empat hal, pertama, secara aktif memberikan informasi yang menguntungkan perusahaan melalui lobi atau kegiatan lainnya. Kedua, memberikan insentif keuangan baik legal atau ilegal kepada pejabat publik. Ketiga, membuka akses ke pengambil keputusan dengan menempatkan pejabat perusahaan di jabatan publik atau menunjuk mantan pejabat publik sebagai pejabat perusahaan. keempat, membangun konstituen melalui kegiatan hubungan masyarakat.

Koneksi politik

Studi oleh Hillman, Zardkoohi dan Bierman (1999) di Amerika Serikat menemukan bahwa strategi akses personal ke pengambil keputusan, yaitu terpilihnya pejabat perusahaan sebagai menteri atau anggota Kongres, menghasilkan manfaat spesifik terhadap perusahaan asalnya.
Dengan menggunakan event studies, mereka membandingkan tingkat keuntungan abnormal perusahaan yang pejabatnya baru saja terpilih dengan perusahaan lain dalam industri yang sama dan waktu yang sama. Adanya keuntungan abnormal menunjukkan perusahaan mendapatkan manfaat dari penunjukan itu.
Dosen FE UGM, Denni Puspa Purbasari (2007) meneliti manfaat koneksi politik bagi perusahaan Indonesia dan menemukan, pertama, perusahaan dengan koneksi politik kuat berpeluang besar untuk mendapatkan lisensi pemerintah untuk mengimpor bahan mentah. Diduga ini terjadi karena adanya hubungan personal antara pejabat publik dengan pemilik perusahaan.
Kedua, perusahaan dengan koneksi politik kuat berpeluang besar untuk menjadi mitra dari perusahaan multinasional, agar dapat memitigasi risiko politik, memperoleh akses pasar dan proteksi pemerintah. Ini memperkuat temuan sebelumnya bahwa perusahaan asing memilih mitra lokal karena koneksi politiknya, bukan karena pengalaman pasar atau keuangan calon mitra lokalnya.
Studi ini menyimpulkan bahawa di Indonesia yang mempunyai tingkat korupsi parah, mekanisme ilegal seperti nepotisme dan suap, merupakan faktor penting dalam berbisnis. Sedangkan sumbangan dana kampanye, keanggotaan asosiasi industri dan lobi tidak terlalu berperan dalam koneksi politik.
Kemudian tata pemerintahan yang buruk beserta motif perusahaan untuk memaksimalkan laba secara tidak etis akan membuka peluang korupsi. Perusahaan akan terus mencari koneksi politik sepanjang koneksi tersebut dipandang akan menguntungkan bisnisnya. 

Benturan Kepentingan

Dalam praktek bernegara kita, potensi benturan kepentingan dalam berbagai tingkatan juga terdapat di DPR, misalnya banyaknya anggota Komisi Hukum DPR yang berlatar belakang pengacara, sarjana syariah maupun mantan polisi/tentara, kemudian ikut menggodok UU Advokat dengan memasukkan kepentingannya masing-masing. Ini juga terlihat dalam pemilihan pejabat hukum, seperti hakim agung dan KPK. Karena tidak ada batasan benturan kepentingan yang jelas, maka praktek di atas masih berlangsung tanpa kontrol berarti.
Padahal kita dapat mengacu pada beberapa kode etik profesi, seperti auditor maupun advokat, atau aturan lainnya seperti peraturan Bapepam. Secara sederhana benturan kepentingan dapat didefinisikan sebagai perbedaan antara kepentingan suatu jabatan dengan kepentingan pribadi pejabat tersebut, yang dapat mempengaruhi keputusannya sesuai kewajiban jabatannya.
Presiden dalam masa awal jabatannya menyatakan akan menerbitkan keputusan presiden untuk meminimalisasi potensi benturan kepentingan antara para pejabatnya yang berlatar belakang pengusaha dengan jabatannya. Sayangnya rencana ini tidak terdengar kabarnya lagi.
Meski demikian, Presiden telah memberikan contoh yang baik dengan mengganti Yusril Ihza Mahendra sebagai Menteri Sekretaris Negara. Meski alasannya tidak disampaikan terbuka, diduga terkait dengan  kasus dana Tommy Soeharto di Bank Paribas, dimana terdapat benturan kepentingan yang nyata ketika sebagai Menteri Kehakiman memberikan pendapat hukum terhadap surat dari firma hukum yang merupakan miliknya sendiri (Majalah Tempo, 14 - 20 Mei 2007).
Meski tinggal dua tahun lagi menjabat, Presiden perlu menepati janjinya dengan menerbitkan keppres yang mengatur benturan kepentingan pejabat publik.

 
We see an ocean once was land
And so they come to understand
This place where man used to be born
Will be man's water throne
Orphaned Land- Ocean Land (The Revelation)
Rob. Kata bahasa Jawa (Semarang) ini semakin lama semakin dikenal di Indonesia, yang berarti banjir karena air pasang laut. Fenomena terakhir yang menjadi perhatian masyarakat adalah banjir yang memutuskan jalan tol ke bandara Soekarno Hatta awal Desember kemarin. Padahal rob sudah melanda kota saya, Semarang, sejak 80-an.
Saya tinggal di Kauman Semarang sampai tahun 1978, kemudian pindah ke Krapyak dan tetap bersentuhan dengan Kauman karena bersekolah SD Sultan Agung Kauman sampai tahun 1987. Sejak saya bayi, banjir sudah menjadi keseharian kami ketika hujan turun. Mungkin ini diakibatkan sistem drainase yang kacau balau. Ada sebuah foto kenangan ketika saya dan Dina adik saya sedang bermain air banjir di Kauman. Sayang adanya di Semarang.
Tetapi sejak tahun 80-an, banjir tidak hanya datang di musim hujan. Ketika air pasang, rob alias banjir datang. Pasar Johar yang didesain Thomas Karsten dan sangat modern (bahkan sampai sekarang), menjadi semakin jorok. Saya jadi semakin malas pergi ke pasar Johar karena joroknya. Padahal keseharian saya sebagai murid SD di Kauman adalah pasar Johar. 
Baru puluhan tahun kemudian, rob dihubungkan dengan adanya perubahan iklim akibat ulah manusia membuang karbon seenaknya. Membakar hutan sekehendaknya. Membuang asap pabrik semaunya. Membuat mobil boros bahan bakar sesuka hatinya. Memakai plastik pembungkus tanpa pikir panjang. Mengutamakan naik mobil sendirian dibandingkan naik angkutan umum. Dan intinya, tidak pernah memikirkan efek carbon footprint—jejak karbon—terhadap alam dan lingkungan.
Karbon memanaskan suhu. Meski ada teori bahwa kenaikan iklim ini adalah kenaikan suhu secara alami karena little ice age baru berakhir pertengahan abad 19. Tetapi pemenang Nobel Perdamaian IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) sepakat bahwa kenaikan suhu lebih diakibatkan ulah manusia.
Seperti halnya pemilu dimana every vote counts, dalam upaya melestarikan bumi kita ini, every carbon reduction counts. 
Mulai dari diri anda. Yang biasa memakai mobil sendiri, mulailah naik angkutan umum. Kalau berada di Jakarta, saya lebih suka naik KA Sudirman Express dari stasiun Tanah Abang/Sudirman ke Sudimara dekat rumah saya. Menghemat waktu, menghemat bensin, menghemat tenaga, memberi rezeki tukang ojek.
Yang biasa memakai listrik dengan berfoya-foya karena harganya murah, mulailah mematikan peralatan elektrik ketika tidak dibutuhkan. Ganti lampu pijar dengan lampu neon atau fluorescent. Listrik di Indonesia sangatlah murah, harga listrik kira-kira Rp. 500/kWh, sementara biaya pembangkitannya lebih dari Rp. 1.500/kWh. Artinya rakyat miskin mensubsidi orang kaya yang berfoya-foya memakai listrik. Subsidi lebih dinikmati orang kaya. Orang seenaknya memakai listrik karena memang sangat murah. Tetapi jika harga listrik dinaikkan agar sesuai dengan biaya pembangkitannya, orang se-Indonesia bisa marah dan menurunkan SBY.
Banyak cara lainnya. Intinya adalah mengurangi jejak karbon anda.
Kita tentu tidak mau “All that was magical, beautiful, will be gone", seperti lirik Ocean Land. Yang bisa kita lakukan adalah memperlambat perubahan iklim seperti lanjutan lirik Ocean Land “the sand in the hourglass, moves so fast, slow the sand”.
Keindahan kota lama Semarang saat ini masih bisa dinikmati karena pemerintah kota berusaha keras membendung rob. Tetapi jika penduduk di seluruh dunia tidak mau mengurangi jejak karbon mereka, barangkali “sepotong Amsterdam di Semarang” ini hanya tinggal kenangan.
Sebagai penutup, ada satu artikel yang baru saya rampungkan dan dikirim ke Harian Kontan untuk dipublikasikan. Moga-moga cepat dimuat.

Perubahan Iklim dan Public Affairs Management

Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim yang baru saja berlangsung di Bali menyita perhatian seluruh dunia. Semua kalangan, swasta, pemerintah maupun LSM berlomba-lomba memperlihatkan komitmen pembangunan berkelanjutan, terutama mengurangi carbon footprint, agar perubahan iklim dapat dicegah. 
Bagi dunia bisnis, komitmen ini harus disikapi dengan adaptasi strategi dan organisasi, kalau tidak mau terpinggirkan dalam gerakan global pembangunan berkelanjutan.
Lingkungan Nonpasar 
Ahli strategi Michael Porter (1980) memperkenalkan konsep five competitive forces, yaitu kekuatan konsumen, pemasok, ancaman produk pengganti dan pendatang baru, serta kompetisi intra industri, dalam menentukan strategi yang tepat bagi perusahaan, yaitu cost-leadership, differentation dan focus.
Dengan dipadukan dengan analisis resource-based view of the firm (Barney, 1986), yaitu sumberdaya perusahaan yang dapat menghasilkan keunggulan kompetitif berkelanjutan, perusahaan dapat menentukan strategi perusahaan yang sesuai dengan kekuatan internal dan lingkungan eksternal. 
Sayangnya kedua hal di atas tidak memperhatikan lingkungan nonpasar perusahaan, yaitu tantangan sosial, politik dan hukum. Jika lingkungan pasar diatur dengan kontrak perdata antara para pihak, maka lingkungan nonpasar diatur oleh stakeholders, seperti masyarakat,  LSM, pemerintah dan institusi negara dan media.
Karena itu, gerakan global pembangunan berkelanjutan dan perubahan iklim adalah lingkungan nonpasar yang perlu dipertimbangkan perusahaan dalam perumusan strategi dan organisasinya.

Adaptasi Strategi 

Dalam hal strategi, perusahaan dapat memilih untuk bereaksi pasif, mengantisipasi secara positif atau ikut dalam menentukan kontrak dengan lingkungan nonpasar dalam bentuk kebijakan publik, melalui strategi politik.
Hal ini dapat dilakukan dengan secara aktif memberikan informasi yang menguntungkan perusahaan melalui lobi atau kegiatan lainnya, memberikan insentif keuangan baik legal atau ilegal, membuka akses ke pengambil keputusan dengan mencalonkan pejabat perusahaan di pemilu atau menunjuk mantan pejabat sebagai komisaris, dan membangun konstituen melalui kegiatan hubungan masyarakat. 
Dengan strategi politik yang tepat, perusahaan dapat mengubah tantangan lingkungan nonpasar menjadi business opportunities. Untuk itu ukuran kinerja perusahaan perlu disesuaikan.
Kaplan dan Norton (1992) ketika memperkenalkan konsep Balanced Scorecard menyatakan bahwa ukuran kinerja tradisional—keuangan— sebenarnya mengukur kinerja masa lalu. Sementara era informasi menuntut perusahaan membangun masa depannya dengan investasi pada kepuasan konsumen, pemasok, karyawan, proses bisnis, teknologi dan inovasi. 
Dengan memasukkan lingkungan nonpasar ke dalam balanced scorecard, maka empat ukuran generik kinerja perusahaan akan lebih komprehensif.
Perspektif pertama,  Pertumbuhan dan Pembelajaran, selain mengukur kinerja dalam hal investasi sumber daya manusia, juga perlu memasukkan ukuran kinerja dalam hal kebijakan gender, affirmative action terhadap karyawan lokal (terutama industri ekstraktif), efektivitas komunikasi ke karyawan, dsb. 
Perspektif kedua, Proses Bisnis Internal, selain mengukur kinerja operasional, perlu memasukkan parameter baru, terutama dalam penerapan best practices dalam hal lingkungan, seperti pengurangan carbon footprint, kesehatan dan keselamatan kerja.
Perspektif ketiga, bagaimana perusahaan tampil di depan konsumen, perlu diperluas ke konstituen lainnya. Industri ekstraktif misalnya perlu memasukkan ukuran kinerja terhadap masyarakat lokal, pemerintah, pemasok lokal, seperti community development program delivery, yang menentukan social license bagi perusahaan. 
Perspektif terakhir, bagaimana perusahaan tampil di depan pemegang saham, tetap mengukur kinerja keuangan perusahaan, seperti ROE atau cashflow.  

Adaptasi Organisasi 

Saat ini memang lazim perusahaan mempunyai fungsi public affairs atau corporate affairs. Hanya saja seringkali lingkungan nonpasar masih didekati secara transaksional, atau menunggu suatu isu muncul, dibandingkan relasional, dimana strategi jangka panjang telah dipikirkan, membangun kontak dan sumberdaya dan organisasi yang diperlukan.
Public affairs management perlu didudukkan sebagai salah satu critical success factor dalam bisnis. Mandatnya adalah untuk: 
Pertama, internal alignment, menyelaraskan strategi perusahaan dengan kecenderungan lingkungan nonpasar. Kedua, one message, menyampaikan pesan yang sama dan konsisten ke seluruh pihak internal dan eksternal. Ketiga, environment scanning, melakukan fungsi pemetaan lingkungan nonpasar. Keempat, stakeholder engagement, mengelola harapan stakeholders agar sesuai dengan strategi perusahaan.
Dalam komitmen perubahan iklim, dunia bisnis di Indonesia dapat belajar dari proses Roundtable on Sustainable Palm Oil yang menghasilkan prinsip, kriteria dan interpretasi nasional yang memperlihatkan komitmen kuat terhadap green business. Beberapa inisiatif global, seperti UN Global Compact dan Sustainability Reporting Guidelines dari GRI, atau ICMM Sustainable Development Framework untuk perusahaan tambang, juga dapat dijadikan pedoman. 
Memasukkan faktor nonpasar ke dalam strategi, ukuran kinerja dan organisasi perusahaan saat ini semakin penting. Masyarakat Indonesia saat ini semakin meningkat pemahaman ekologi yang berkorelasi dengan niat untuk membeli produk hijau (Junaedi,  2007).
Karena itu, mumpung UNCCC baru selesai, dunia bisnis mempunyai waktu untuk menunjukkan komitmen pembangunan berkelanjutan mereka agar mampu bertahan dalam gerakan global sadar lingkungan saat ini.
gambar: 

Penasaran dengan profil Achmad Albar dan God Bless, saya buka arsip majalah Tempo dan menemukan edisi Tempo yang Fokus Utamanya adalah Achmad Albar, bahkan menjadi sampul.
waktu Tempo ini diterbitkan, saya berumur kurang dari satu tahun.
Edisi. 30/V/27 September - 03 Oktober 1975
 
 
Fokus Kita

Achmad albar
God bless yang lahir belum 3 tahun yang lalu tetap bertahan pada musik rock yang belum banyak penggemarnya. pada god bless musik tampak sebagai panggilan hidup bukan sebagai jenjang kekayaan. (fk) 

HAMPIR bisa dipastikan, Koes Plus kini tidak lagi menjadi raja
musik pop. Beberapa kelompok yang lahir belakangan seperti The
Lloyd, Mercy's atau Bimbo misalnya, makin lama malah makin
tambah penggemarnya. Diketahui, yang berhasil mematok diri
secara kukuh sampai sekarang ini baru Bimbo. Grup asal Bandung
itu, walaupun terlibat kompromi dengan kebijaksanaan cukong
(rekaman dangdutnya misalnya terasa dipaksakan) masih sempat
menelurkan hasil-hasil bagus dan menelurkan warna musik tertentu
(boleh dilihat pula lagu-lagu kasidahnya yang paling baru). Akan
halnya Koes Plus, The Lloyd, Panbers, Favourite's, Mercy's
maupun AKA, walaupun yang terakhir ini sukses dengan musik rock,
akhirnya toh tampak sebagai grup pencari uang yan biasa, yang
memang tak usah disalahkan sebagai orang dagang.

Tapi dalam hal itulah God Bless lantas kelihatan. Lahir belum
tiga tahun yang lalu, grup ini masih kukuh dengan pendiriannya
untuk tidak tunduk pada selera umum sepetti diwakili oleh
pengusaha rekaman. Tetap bertahan pada musik rock yang diketahui
tidak atau belum banyak penggemarnya, mungkin Ahmad Albar dan
kawan-kawan sebenarnya bisa saja mencoba-coba merekam
jenis-jenis lain (pop melayu, pop mandarin, pop daerah, pop
barat) yang kadang dikatakan sedang merupakan tambang emas.
Namun, sambil mengingat bahwa belum tentu percobaan mereka akan
menelurkan mutu, secara tidak berlebihan bisa dikatakan bahwa
pada God Bless kelihatan arti lapangan kerja--musik--tidak
semata-mata sebagai jenjang kekayaan--walaupun dibanding
grup-grup lainnya, mereka ini sekarang tidak bisa dikatakan
kaya. Pada God Bless ini musik tampak sebagai "panggilan hidup",
istilah yang biasanya muncul di kalangan seniman dan idealis
lainnya, baik kecap maupun tidak.

Memang mungkin juga 'fanatisme' pada rock -- entah sampai kapan
disebabkan oleh cara hidup dan lingkungan yang mengantarkan
Ahmad ke jenjang karier. Dan karena itulah kami fikir tak ada
salahnya untuk mengetengahkan secara apa adanya tokoh muda ini
dari segi pribadi. Siapa tahu pula barangkali cara ini lebih
tepat dibanding pembicaraan serius dan mendalam terhadap
prestasi grup yang belum punya rekaman itu. Untuk itu Yusril
Jalinus, yang menulis laporan ini dengan bantuan Eddy Hewanto,
pulang-balik mevawancarai keluarga yang di dalam musik
sebenarnya merupakan "keturunan gambus".
Nah, mudah-mudahan
cukup ringan. Selamat berpuasa pembaca.


Bapaknya gambus, anaknya rock

Ayah achmad, syech albar adalah tokoh gambus yang populer, sedang achmad sendiri menyukai musik rock walaupun musik rock kurang komersil. ia ingin mempelopori musik rock dalam bahasa indonesia. (ms)
DI atas pentas, tubuhnya yang nampak tipis sering dibalut
pakaian yang agak aneh. Kadang-kadang hanya memakai singlet atau
rompi, sepatu bot se tinggi lutut, atau semacam mantel hitam
seperti punya Zorro. Mik yang dipegang pada gagangnya sering
diangkat-angkat, dihunjam-hunjamkan. Kalang-kadang diputar-putar
di atas kepalanya, seperti atlit pelempar martil. Namun sambutan
penonton pada setiap pertunjukan God Bless yang selalu melimpah
itu tidak melulu karena dandanan atau ulah Achmad Albar semacam
itu. Tampil pertama kali di TIM bulan Mei 1973, bukan saja mampu
menyisihkan The Young Cypsi dan One Dee And LadJ Faces--dua
grup yang mendampinginya malam itu tapi sekaligus juga berhasil
membaptiskan diri sebagai grup pop yang unggul membawakan musik
rock.

Suksesnya yang pertama disusul dengan sambutan meriah pada
setiap penampilan berikutnya. Di Teater Terbuka TIM, di pesta
terbuka Summer 28 Ragunan. Bahkan dalam pesta terbuka Kemarau 75
di lapangan Gedung Sate Bandung akhir Agustus kemarin, God Bless
sekali lagi membuktikan dirinya sebagai grup yang paling
berhasil dibanding ke-11 peserta lainnya. Di hadapan penonton
yang ngamuk Achmad Albar yang muncul hampir pada buntut acara,
berhasil menghentikan hujan sandal dan batu. Ratusan ribu remaja
itu bahkan berteriak "terus....lagi....lagi....".

Tanya: Anda selalu memainkan musik rock. Padahal anda lahir dari
keluarga pemain gambus. Ayah anda, Syech Albar, adalah tokoh
gambus yang pernah populer. Kenapa anda tidak bermain gambus
pula?

Jawab: Ketika ayah meninggal saya belum tiga tahun. Saya tidak
mengenal almarhum secara langsung. Lagi pula sejak itu musik
gambus jarang diputar lagi di rumah. Sehingga hampir tak ada
pengaruhnya pada jiwa saya. Tapi saya bangga, ayah saya orang
yang terkenal. Dan sekarang saya ingin juga sepopuler dia.

T: Anda tahu bahwa musik rock belum banyak peminatnya kecuali
kaum remaja. Itu pun jumlahnya terbatas. Kenapa anda ingin
bertahan dengan musik jenis itu? Kenapa misalnya tidak nerekam
lagu-lagu dangdut yang komersil, seperti yang kebanyakan
dilakukan oleh grup-grup lain?

J: Saya tahu musik rock kurang komersil. Tapi bagi Saya main
musik bukan untuk cari uang melulu. Kalau tujuannya begitu dari
dulu lebih baik merekam lagu-lagu dangdut saja misalnya. Untuk
mempertahankan hidup saya bisa cari uang di bidang lain. Saya
memainkan musik yang saya sukai musik rock. Dan saya selalu
mencari sesuatu yang baru. Kalau misalnya nanti lahir musik baru
dan saya merasa cocok, saya akan ambil dan musik rock saja
tinggalkan.

Shampo Bungkus

Lahir di Surabaya, 16 Juli 1946, Achmad Albar adalah anak
keempat Syech Albar anak kedua Farida AlHasni. Tinggal di
Bandung selama tujuh tahun, keluarganya kemudian menetap di
Jakarta hingga sekarang. "Saya tak pernah ingin jadi dokter atau
insinyur. Cita-cita saya kepengin jadi bintang film yang baik
dan penyanyi yang baik", ucap Achmad. Dan keinginannya kemudian
terkabul lewat film Jenderal Kancil ketika ia berumur 12 tahum
Honornya sebanyak Rp 1.600 diserahkan kepada ibunya. "Saya masih
ingat, saya cuma minta dibelikan jam tangan".

Filmnya yang kedua Kapten Kecil tidak sempat rampung. Sebab
sutradaranya, seorang India, keburu pulang ke negerinya. Setelah
itu kesempatan di bidang film hampir tak pernah diperolehnya
lagi. Ia lebih banyak memberikan perhatian pada musik. Sempat
juga bergabung dengan band Quarta Nada bersama Salanti
Bersaudara (Titik Qadarsih). Namun ketika ada larangan memainkan
musik-musik semacam rock dan Beatles serta rambut gondrong,
Achmad Albar merasa tertekan. Tanpa tujuan jelas, selepas SMA
tahun 1965, dengan ongkos ibunya dia pergi ke Negeri Belanda
sendirian. "Saya ingin mencari kebebasan di sana", katanya.

Hampir delapan tahun di Negeri Belanda (tinggal bersama keluarga
pamannya) Achmad tidak sempat mencicipi pendidikan musik yang
memadai. Di sebuah sekolah musik--dia mengambil jurusan gitar
klasik--hanya dijalaninya selama tiga bulan. "Karena itu saya
cuma sedikit-sedikit saja bisa membaca not balok", katanya.
Meski begitu ia toh berhasil mengorbitkan Clover Leaf, grup pop
yang didirikan bersama kawan-kawannya, dalam deretan band-band
dunia yang lagu-launya banyak digemari orang. Bahkan beberapa
di antaranya seperti Time Will Show dan Don't Spoil My Day
sempat nangkring di puncak tangga lagu-lagu.

Dengan modal pengalaman itu Achmad yang kembali lagi ke Jakarta
awal 1973 yang lalu dan membentuk God Bless. Tapi Jakarta bukan
Belanda. Dengan cuma show-show, apa lagi menampilkan musik rock,
Achmad tentu tidak bisa mengeruk duit banyak. Sementara ibunya
yang kini tidak punya rumah sendiri (tinggal di rumah kontrakan)
perlu mendapatkan bantuan. Dengan show saja, sekali main, God
Bless saat ini cuma dibayar rata-rata Rp 750 ribu. Jumlah ini
harus dipotong 40 persen oleh manejernya yang memiliki instrumen
dan perlengkapan sistim suara. Sisanya tentu saja masih harus
dibagi di antara anggota grup yang jumlahnya sekitar lima orang.
Untuk tambahan penghasilannya, Achmad kini aktif lagi di bidang
film. Bahkan menjadi foto model untuk sebuah merek jeans, dengan
kontrak dua tahun dengan bayaran Rp 360 ribu.

Tanya: Anda tentu banyak memerlukan uang untuk misalnya
pakaian atau pemeliharaan rambut kribo itu.

Jawab: Tidak terlalu banyak. Pakaian untuk show misalnya, saya
selalu memakai bahan yang murah. Bahkan menjahitnya pun hanya
pada sebuah tukang jahit kecil di BlokM Kebayoran. Disainnya
saya sendiri yang merencanakan. Saya tidak pemah membeli pakaian
ke butik-butik. Terlalu mahai buat saya. Biar bahannya murah,
kalau memakainya pantas kan bagus juga. Rambut saya. pun, tidak
pernah mendapat pemeliharaan dari salon-salon kecantikan. Saya
pelihara sendiri Sejak tujuh tahun saya memilih model kribo ini
dan tidak pernah ke tukang cukur Untuk merapihkan - kalau
kepanjangan misalnya - saya minta tolong adik atau teman untuk
mengguntingnya. Ongkos pemeliharaannya pun tidak mahal. Dicuci
setiap tiga atau empat hari sekali dengan shampo untuk rambut
normal atau shampo telur. Bahkan bila terpaksa, misalnya dalam
tour-tour, saya sering juga pakai shampo bungkus yang harganya
25 perak itu. Dengan membersihkannya secara teratur, rambut saya
bebas dari kutu dan ketombe.

Serba Lancip

Tanya: Kenapa anda memilih model kribo? Dan berapa lama waktu
yang dibutuhkan untuk mempersiapkan rambut model Afro Look itu?

Jawab: Waktu itu memang model itu sedang tumbuh. Banyak orang
menyangka bahwa pelopornya adalah Jimmy Hendriks. Sebenarnya
bukan. Justru Bob Dylan yang bukan Negro yang memulai rambut
kribo itu. Bedanya, kalau Jim~my He~ndriks asli Bob Dylan bikinan.
Sa~ya terke~na wabah it~u. Mulanya memang terasa kurang enak. Ja~di
tidak bebas. Lama-lama, ~yah, buktinya model ini ~~tetap sa~ya
pakai ~walaupun Bob Dylan sudah lama tidak kribo lagi. Sekarang
saya tak pernah meraSa terga~nggu lagi. Un~tuk mengering~kannya,
ses~udah dicuci, cukup dengan sinar matah~ari. Bila kena air
mula-~mua ~meman~g jadi lemes. Tapi sete~ngah jam kemudian, ~bila
kering akan b~aik se~ndiri seperti ada liftnya. Dan langs~ung
membentuk keriting-keriting kecil. k~etika ~masih ~di negeri
Belanda, Radio, Radio Hilversum ~yang mewawancarai sa~ya pernah
mengukur lingkaran ranbut ~ini. Panja~ng~~nya ter~nyata 75 cmÿFD.
Begit~u besar~nya kribo itu hi~ngga muka saya ~yang serba lancip ini ~
menja~di bertambah sempit saja. Sekara~ng garis lingkarann~ya
pali~ng-pali~ng cuma 40 sampai 5O sentimeter. Sehi~ngg~a kini agak
pantas buka~n? Dan waktu untuk menyisir pun me~nja~di bertambah
si~ngkat - sekitar 5 sa~mpai 10 ~me~nit saja.

Setiap hari, di rumah ibunya Jalan Perdatam Pasar Minggu,
Achmaad hampir selalu bangun siang. Terutama bila ada
kegiatan malam harinya: show atau bikin film. la jarang
keluyuran sendiri kecuali bila dijemput teman-temannya. Tubuhnya
yang agak ramping (tinggi 170 sentimeter, berat 57 kilogram)
merupakan daya tarik tersendiri bagi kawan-kawan lawan jenisnya.
Kumis dan janggutnya sengaja dibikin tipis. Sebab kalau terlalu
tebal, "muka saya jadi terlalu ramai", katanya. Pacar? "Saya
tidak punya". Sewaktu di Negeri Belanda, menurut pengakuannya,
memang pernah serius dengan seorang gadis Indo. Tapi putus,
sebab sang gadis tidak menyukai kehidupannya sebagai pemain
musik. Sedang dengan Sandra (penyanyi Story Book Children),
hanya teman saja. "Tapi memang pernah dekat", katanya. Memang
ada niat kawin pada umur 30 atau 31 ini. Tapi caalonnya belum
ada. Sehari-hari ia hanya bergaul dengan kawan-kawan dekatnya
saja. Untuk memenuhi kebutuhan biologis dia jarang pergi ke
daerah hitam atau stem-bath. "Saya kurang suka pelacur. Saya
selalu merasa canggung berhubungan dengan orang yang belum saya
kenal. Saya mau berhubungan asal suka sama suka. Misalnya dengan
teman-teman atau fans.

Cuti Besar.

Terlibat dalam pergaulan bebas semacam itu, Achmad Albar tidak
sampai kecanduan obat bius semacam ganja atau morfin. "Saya
memang pernah mencoba ganja. Ingin tahu saja. Tapi pusing",
katanya. "Lagi pula baik ganja ataupun morpin tidak baik buat
pemain musik. DiGod-Bless ada seorang yang kecanduan. Maka kalau
main, sering-sering kacau. Dia cuma main, tanpa ada usaha untuk
misalnya berimprovisasi. Lebih-lebih bila ketika main timbul
rasa ketagihannya, permainannya bisa berantakan". Bebas obat
biusnya, barang kali juga karena ia dibesarkan dalam lingkungan
keluarga muslim. "Tapi pengetahuan agama saya tidak banyak
ucapnya. "Dan saya tidak fanatik".

Memang dulu, katanya, pernah sembahyang dan menjalankan puasa.
Tapi sekarang, "tidak kuat berpuasa karena banyak kesibukan.
Sembahyang pun tidak lagi. Sedang cuti besar", katanya
berseloroh. Namun kadang-kadang, ada saat-saat di mana Achmad
sering merenung sendirian. "Kalau sedang begitu biasanya timbul
niat untuk sembahyang lima waktu", katanya (Walaupun
jarang-jarang niat itu kesampaian). "Saya percaya kepada Tuhan,
Karena itu sayapun percaya adanya setan yang selalu menggoda.
Dan saya adalah manusia dengan segala kelemahannya", ujar Achmad
Albar lagi.

Sampai kini lagu-lagu ciptaannya memang belum banyak. Beberapa
lagu larat dan sedikit lagu-lagu Indonesia seperti Setan
Tertawa (untuk film Laila Majnum). Rumah Di Atas Bukit, yang
dibawakan dalam beat rock. Tempo hari ia pernah bilang bahwa
lagu dalam bahasa Indonesia kurang pantas dibawakan dalam irama
rock. Namun kini "saya akan mencoba memeloporinya katanya.
Soalnya memang belum biasa. Bahkan musik rock yang dimainkan
grup-grup di luar negeri pun jarang mendapat tempat di televisi
maupun radio-radio. Penggemar jenis musik ini hanya bisa
menikmatinya lewat show-show atau kaset-kaset yang banyak
dijual "Itulah sebabnya ada jurang antara musik rock dan
masyarakat", katanya.

Grup manakah yang paling disukai Achmad? Katanya, masing-masing
punya kelebihan. Misalnya grup Genesis unggul dalam aransemen.
Emerson Lake and Palmer (ELP) punya kelebihan dalam
melodi, sementara Deep Purple (yang paling disukainya) menonjol
bila membawakan lagu-lagu beat rok. Namun ciptaan grup-grup itu
oleh God Bless tidak selalu dibawakan begitu saja. "Biasanya
selalu saya aransir kembali". ujar Amlad. Tentu saja hasilnya
tidak selalu baik. Namun paling sedikit, sudah ada usaha untuk
tidak menjiplak mentah-mentah. Kapan berhenti main? Nampaknya
Achmad belum berniat untuk itu. Bahkan menjadi penyanyi tunggal
pun, belum terfikirkan. "Tapi kalau God Bless tidak bisa
dipertahankan lagi, mungkin saya akan judi penyanyi biasa saja",
katanya.
"Sebab musik adalah hidup saya .... ".


Saya masih 20 achmad lagi

Farida menceritakan kehidupan perkawinannya, anak- anaknya, keinginannya untuk menjadi bintang film dan kebaikan achmad albar yang penurut. (ms)
COBA kalau sewaktu di negeri Belanda dia mau bertahan 5
tahun saja di Sekolah Musik itu, paling sedikit bisa menjadi
guru musik. Tapi sekolah itu cuma dijalaninya beberapa bulan
saja. Ayahnya memang ingin agar Achmad Albar menjadi penyanyi.
Tapi saya lebih setuju kalau dia bisa bertitel drs dulu baru
terjun ke bidang musik atau apa saja. Dia keras, tapi penurut.
Tidak pernah marah dan tidak pernah membantah. Sekali waktu
ketika saya di Roma, dia yang sudah berambut kribo itu datang
dari Negeri Belanda. Ratmbutnya saya suruh bikin biasa lagi di
salon. Dia hanya menurut saja. Tapi malamnya menangis di kamar
sendirian. Akhirna saya tahu bahwa itu mode. Dan rambutnya
kemudian dikribo lagi. Perubahan keadaan keluarga yang dulu
berada dan kini sederhana, juga tidak membuat hatinya sedih. Dia
bahkan lebih banyak memperhatikan kepentingan adik-adiknya
dibanding kepentingan dirinya sendiri. Saya malah banyak belajar
dari dia, ujar Farida Alhasni. "Kalau saya punya anak kayak Achmad,
20 lagi, 30 lagi, saya masih mau". Tentu saja Farida tidak
sepenuhnya suka dengan musik rock yang sering dimainkan anaknya.
"Saya lebih suka kalau dia menyanyikan lagu yang sentimentil",
katanya.

Sudah Cape

Ibu Achmad Albar ini ketika menikah dengan Syech Albar, baru 14
tahun. Syech Albar waktu itu sudah punya isteri dan dua orang
anak. "Begitu melek dan ngerti laki-laki, saya mendapatkan
suami dengan dua orang anak", katanya. Dari perkawinan itulah
lahir Achmad dan kakaknya, Sadia Albar (yang sekitar tahun 65,
pernah menjadi penari tari perut di klab malam Nirwana, Hl).
Syech Albar, pemain gambus itu, kemudian meninggal akibat tbc
kronis. Farida yang kemudian kawin dengan Ibrahim Alkaff (orang
Singapur) hanya sebentar dan berakhir dengan perceraian
menghasilkan Fitria. Sidi Tando yang menjadi suami Farida ke
tiga menghasilkan seorang anak pula, Duma Tando. Dengan
pengusaha terkenal ini juga, perkawinannya berakhir dengan
perceraian. Kemudian kawin lagi dengan Haji Djamaludin Malik
(juga berakhir dengan perceraian) dan menghasilkan dua orang
anak: Camelia Malik dan Mahdi Malik. Setelah itu lama menjanda.
Setahun lalu ketika baru 40 hari meninggalnya Fuad (menantunya,
suami Fitria, pemain drum God Bless) Farida mendapatkan suami
lagi, juga bernama Fuad, 36 tahun. Sampai kini belum bercerai
lagi. "Mudah-mudahan bisa bertahan lama. Saya memang sudah cape".

Dalam usia yang menurut pengakuannya baru 47 itu, Farida nampak
masih lebih cantik dari potretnya sendiri yang tergantung di
ruang tamu hasil lukisan Basuki Abdulah. Rumah bercat putih dan
tidak besar itu hanya diperlengkapi dengan perabotan rumah
tangga yang sederhana. Beberapa barang keramik tersusun rapi di
atas rak besi yang tinggi. Beberapa potret keluarga, juga
tergantung di ruang tengah. Rumah ini bukan milik sendiri,
dikontrak selama dua tahun. Dulu, katanya, pernah punya dua
buah rumah di daerah Menteng. Tapi terpaksa dijual ketika Farida
dan anak-anaknya berniat tinggal di Roma, Italia. Hanya delapan
bulan di sana, mereka kemudian balik kembali ke Jakarta. Achmad
Albar waktu itu masih di Negeri Belanda, sementara Saadia Albar
sudah bersuamikan seorang dokter gigi berkebangsaan Jerman, dan
tinggal di sana.

Tentang pendidikan terhadap anak-anaknya, Farida bercerita:
"Saya dulu. dididik dengan cara kuno. Karena itu kepada
anak-anak saya memberikan kebebasan. Mereka saya lepas, asal
tidak jadi penjahat saja. Saya lebih suka kalau mereka lacaran
di rumah. Saya memang sengaja memberikan tempat yang romantis
untuk itu. Dari- pada mereka keluyuran di luar rumah, saya tidak
bisa mengawasi. Saya sendiri tak pernah sembunyi-sembunyi bila
harus pergi dengan seorang kawan pria ke klab malam. Saya akui,
pendidikan agama terhadap anak-anak memang kurang matang. Tapi
bagi saya yang penting adalah pendidikan akhlak buat mereka.
Dari pada gembar-gembor mesti sembahyang, mesti ini-itu tapi
akhlaknya bejat, bagaimana?"

Menghargai Cinta

Namun dengan cara pendidikan semacam itu, Farida tidak sepi dari
perisiwa-peristiwa keluarga yang menyedihkan. Misalnya ketika
Fitria dan Camelia Malik terlibat dalam cinta segi tiga dengan
Fuad. Fuad yang kemudian kawin dengan Camelia, terpaksa
menceraikan isterinya, Fitria, kakak Camelia. (Karena urusan
inilah Achmad Albar yang sedang sukses bersama grupnya. lover
Leaf di Negeri Belanda harus kembali ke Jakarta). "Camelia anak
saya yang disakiti. Fitria, juga anak saya", ucap Farida. "Dan
say kira tak ada seorang pun yang tega melihat peristiwa itu.
Tapi saya tetap menghargai cinta".

Tapi kenapa ia suka kawin-cerai-kawin-cerai? Beberapa
perkawinannya memang dianggapnya gagal. Untuk mengejar cinta,
bahkan katanya, dia pernah hidup bersama seseorang dengan tujuan
untuk akhirnya kawin. Tapi gagal juga. "Cinta memang aneh",
katanya. "Kita kadang-kadang mendapatkan cinta dari orang yang
cakep, tapi bisa juga dari orang yang jelek". Sedang jalan untuk
mendapatkan cinta pun, katanya, macam-macam. Farida bercerita
bagaimana dia akhirnya jadi nyonya Djamaludin Malik. "Sudah
sejak Lama saja kepingin main film. Saya ingin seperti Netty
Herawati, yang selain mendapatkan uang, juga mendapatkan
perumahan. Usmar Ismail akhirnya memberikan peran dalam film
Lewat Jam Malam. Saya sudah lama latihan untuk peran utamanya,
ketika tiba-tiba Usmar Ismail memberitahu bahwa saya dilarang
main. Rupanya Djamaludin Malik yang sering datang menyaksikan
latihan-latihan itu (juga pemilik modal terbesar dalam
pembuatan film itu) telah minta kepada Usmar agar peran itu
digantikan, akhirnya, Dahlia yang menggantikan saya. Lalu saya
malah dikontrak oleh Persari (kepunyaan Djamaludin Malik) bahkan
dengan rumah tinggal seperti istana. Selama kontrak itu saya tak
pernah main film, tapi malah jadi main-main sungguhan dengan
Djamaludin Malik. Setelah berpisah dengan Djamaludin Malik, saya
sempat juga main dalam Malam Tak Berembun. Tapi film itu tak
sempat beredar".

Liku-liku hidupnya yang tidak biasa itu membuat Farida -- yang
dulunya bernama Fadlun --sadar, "hidup saya waktu muda tidak
happy". Karena itu, "saya merasa berdosa misalnya kepada Achmad
Albar, kenapa tidak memperhatikan dan menyalurkan bakat musiknya
waktu kecil". Padahal waktu itu, keadaannya masih sempurna.
Piano pun ada. "Bagi yang masih kuno kebebasan saya mungkin
kelewatan. Tetapi bagi orang yang lebih bebas, sikap saya
barangkali belum apa-apa. Saya hidup menuruti hati nurani saya
sendiri", katanya.

Rock, baru sekedar mode

Musik rock pernah berpengaruh di indonesia, tapi tak berkembang karena baru sekedar mode. dengan tampilnya god bless, perkembangan musik pop pribumi memberikan arti penting. (ms)
MUSIK rock memang lahir lebih belakangan dari jazz atau musik
rakyat. Paling sedikit musik yang berkembang pada tahun 1950-an
itu merupakan hasil campuran antara blues dan musik rakyat. Bill
Haley and The Comets Band, berhasil membikin tonggak dalam
sejarah musik rock dengan lagunya yang populer Rock Around The
Clock. Kemudian penyanyi Elvis Presley dengan Heartbreak Hotel
mengguyur negeri-negeri seluruh dunia dengan musik rock. Namun
walaupun periode ini sangat terasa pengaruhnya di Indonesia, toh
belum ada satu grup pun yang berhasil mengangkat jenis musik itu
secara berhasil.

Sebagaimana musik-musik lama itu sekarang bermunculan kembali,
rock yang sempat menghilang setelah zamannya Elvis Presley
kembali lagi dalam bentuk lebih baru. Rock gaya baru ini, lebih
kaya dan lebih menuntut instrumen musik listrik mutakhir.
Jenis inilah yang berpengaruh besar di lndonesia lewat grup-grup
Emerson Lake Palmer, Deep Purple, The Who. Pada tahun 1970,
Rollies dari Bandung memperkenalkan musik keras (hardrock).
Lalu tumbuhlah grup-grup semacam di beberapa kota besar:
Bandung, Jakarta, Surabaya. Tentu tidak seperti grup-grup luar
negeri yang banyak bertahan lama, grup-grup pribumi seperti AKA,
Rollies, hampir cuma ikut-ikutan saja. "Perkembangan musik rock
di sini dengan publiknya yang masih terbatas - sementara ini
cuma baru sekedar mode saja", ucap Mus Mualim .

Memang. Sebab Rollies, meskipun punya potensi yang luar biasa,
akhirnya mati sendiri. AKA dari Surabaya. yang benar-benar
jantan jika memainkan jenis musik itu mendadak loyo di pabrik
rekaman. Seperti kambing kehujanan. Beberapa grup lagi mencoba
tumbuh, bahkan sering saling bertemu, mislnya pada pesta-pesta
musik terbuka. Tapi tak satu pun yang nampaknya ingin nencoba
bertahan secara utuh. Gejala itu pada dasarnya bisa dibenarkan
juga. Sebab bagaimana bisa hidup, bila musik itu tidak
mendatangkan uang? Sehingga pada umumnya, akhirnya bersikap
seperti AKA, kompromi dengan musik-musik pop komersil. Kalau
perlu apa kata cukong mainkan saja.

Dari kenyataan seperti itu, maka tampilnya God Bless cukup
memberikan arti yang penting dalam perkembangan musik pop
pribumi. Sebab grup ini di samping tetap bertahan dengan musik
rocknya, hasil permainannya pun tidak mengecewakan. Komentar
Mus: "Lagu-lagu yang dibawakan diaransirnya kembali dengan baik.
Tidak asal main. Maka ciri God Bless pun tetap menonjol,
walaupun lagu itu misalnya milik Emerson Lake Palmer atau pun
Deep Purple..."


 Sumber asli: http://agamfat.multiply.com/journal/item/8/Dari-Diskusi-Musik-PPI-Birmingham-Musik-Menjadi-Alat-Perlawanan-Mahasiswa-di-Jaman-Soeharto